Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R603880798
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID3880798. Asal dan lisensi uraian
BangunanLampung, IndonesiaARS-R603880798

Gereja Santo Theodorus, Liwa

Gereja Santo Theodorus, Liwa adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Way Mengaku, Balik Bukit, Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Gereja ini berada di bawah naungan Keuskupan Tanjungkarang.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Keagamaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Gereja Santo Theodorus, Liwa dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Lampung, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Gereja Santo Theodorus, Liwa sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Gereja Santo Theodorus, Liwa
Lokasi
Lampung, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q122923928; ID3880798
Klasifikasi sumber
keagamaan · nomor ID3880798
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bahan bangunan, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Gereja Santo Theodorus, Liwa adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Way Mengaku, Balik Bukit, Liwa, Kabupaten Lampung Barat, Lampung. Gereja ini berada di bawah naungan Keuskupan Tanjungkarang. Pelindung gereja dan paroki ini ialah Santo Theodorus.

Yubileum Khusus 800 tahun Santo Fransiskus Asisi

Dengan penuh sukacita, Paroki Santo Theodorus Liwa mengundang seluruh umat Allah untuk ambil bagian dalam perayaan Yubileum Khusus 800 tahun Santo Fransiskus Asisi yang dimulai sejak 10 Januari 2026 hingga 10 Januari 2027

Dalam semangat pertobatan, kerendahan hati, dan cinta kasih kepada Tuhan, sesama, serta seluruh ciptaan, marilah kita bersama-sama memperbarui iman dan meneladani hidup Santo Fransiskus yang sederhana namun penuh makna.

Semoga melalui perayaan yubileum ini, kita diteguhkan menjadi pembawa damai dan saksi kasih Kristus di tengah dunia.

Bagi umat, komunitas, maupun rombongan yang ingin menjadwalkan kunjungan doa dan ziarah ke Paroki Santo Theodorus Liwa dalam rangka Yubileum Khusus ini, silakan menghubungi narahubung (Bambang - 081272063148) untuk informasi lebih lanjut dan pengaturan jadwal kunjungan.

Damai dan kebaikan menyertai kita semua.

Mengenal Gereja Paroki St. Theodorus Liwa Lampung Barat.

Pendahuluan

Gereja Unit Pastoral Santo Theodorus berada di Liwa, Kabupaten Lampung Barat. Jarak antara Liwa dan pusat Ibu Kota Provinsi Lampung, Tanjung Karang, kurang lebih 180 kilometer, dengan waktu tempuh sekitar 6–7 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat. Liwa sebagai pusat pemerintahan Lampung Barat terletak di persimpangan strategis yang menghubungkan tiga provinsi, yakni Lampung, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Di bagian selatan, Liwa berbatasan dengan Pekon Kembahang, Kecamatan Batubrak; di sisi timur berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS); di sebelah barat berbatasan dengan Pekon Tanjungkemala, Kecamatan Pesisir Tengah serta TNBBS; dan di utara berbatasan dengan Pekon Tanjungraya, Kecamatan Sukau.

Secara topografis, Liwa terletak di wilayah pegunungan berhawa sejuk dengan panorama alam yang indah seluas kurang lebih 3.300 hektar, mencakup sejumlah pekon atau kelurahan yang dikelilingi perbukitan hijau. Dari kejauhan, tampak kebiruan Gunung Pesagi, gunung tertinggi di Lampung dengan ketinggian 2.262 meter, yang semakin memperindah lanskap Kota Liwa. Selain memiliki potensi sumber daya alam seperti pertanian, perikanan, perkebunan, kehutanan, pariwisata, dan pertambangan, Liwa juga kaya akan jejak sejarah dan budaya. Beragam tradisi yang masih lestari antara lain upacara adat nayuh (pesta pernikahan), nyambai (acara bujang-gadis dalam resepsi pernikahan), bediom (menempati rumah baru), sunatan, sekura (pesta topeng rakyat), sastra lisan seperti segata, wayak, dan hahiwang, buhimpun (musyawarah), butetah (pemberian gelar adat), serta berbagai ritual adat lainnya.

Kota Liwa juga memiliki sejumlah destinasi wisata menarik, seperti Air Terjun Kubuperahu, kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang sebagian wilayahnya berada di sekitar Liwa, Pulau Dewa di Desa Jejawi yang memiliki makam sepanjang hampir tiga meter, serta Prasasti Hujung Langit (Batu Tulis Hara Kuning) di Bawang, ditambah suasana sejuk alam yang masih asri dan kekayaan seni budaya lokal. Kabupaten Lampung Barat pun didukung berbagai objek wisata lain, seperti Danau Ranau, wisata budaya Pekon Kenali (Belalau), serta bentang pantai sepanjang Pesisir Barat Samudera Indonesia yang potensial, termasuk situs bersejarah seperti Situs Prasejarah Batu Jaguar di Pekon Purawiwitan, Sumberjaya. Di lokasi tersebut terdapat batu menhir yang diyakini masyarakat dapat memberi pertanda apabila akan terjadi bencana, sebagaimana dipercaya saat gempa Liwa tahun 1994.

Liwa pernah mengalami kehancuran hebat akibat gempa bumi pada 15 Februari 1994 yang berpusat di Sesar Semangko, Samudera Hindia. Peristiwa tersebut mengakibatkan hampir seluruh bangunan permanen di Liwa roboh dan rata dengan tanah, dengan korban meninggal sedikitnya 196 jiwa dari berbagai desa dan kecamatan di Lampung Barat serta hampir 2.000 orang mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Diperkirakan sekitar 75 ribu penduduk kehilangan tempat tinggal, dan dampak gempa dirasakan hingga radius 40 kilometer dari ibu kota kabupaten tersebut. Pasca-bencana, pembangunan kembali permukiman, perkantoran, dan sekolah dilakukan dengan konstruksi tahan gempa. Kini Liwa telah bangkit dan berkembang, bahkan menarik minat investasi di berbagai sektor, tidak hanya pada komoditas unggulan kopi—termasuk kopi luwak—tetapi juga pada pengembangan energi panas bumi oleh Chevron Corporation melalui proyek di wilayah Suoh–Sekincau, Lampung Barat, yang ditargetkan mampu menghasilkan daya hingga 500 MW guna mendukung program pemerintah pusat dan daerah.

Sejarah Singkat Gereja di Unit Pastoral St Theodorus Liwa, Lampung Barat.

Perkembangan Gereja di Liwa, Lampung Barat, tidak dapat dipisahkan dari karya pastoral Paroki Keluarga Kudus Baradatu, sebab Unit Pastoral Liwa pada awalnya merupakan wilayah stasi yang berada dalam lingkup pelayanan paroki tersebut. Unit Pastoral Liwa berdiri mandiri pada tahun 1994, tidak lama setelah gempa besar melanda wilayah ini, dengan pastor pertama yang bertugas adalah Pastor Vincent Le Baron, MEP. Setelah masa pelayanannya berakhir, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh RD. Antonius Suhendri, RD. Harry Prabowo, RD. Agustinus Sunarto, RD. Paulus Saryanto, RD. Agustinus Sudaryanto, dan sejak 1 Agustus 2016 dipercayakan kepada RP. Bonivantur Yulianus Lelo, OFM.

Peristiwa gempa tahun 1994 membawa perubahan besar, termasuk dalam relasi antara Gereja, pemerintah, dan masyarakat. Kehidupan beragama semakin memperoleh perhatian, meskipun di beberapa tempat Gereja masih dipandang sebagai “pendatang” sehingga diperlukan kebijaksanaan dan kehati-hatian agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Saat ini Paroki Santo Theodorus Liwa memiliki tujuh gereja atau stasi, yaitu Liwa, Pasar Minggu, Sekincau, Sidomakmur, Sumberjaya, Mayus, dan Malang–Suoh. Pastoran berada di samping Gereja Santo Theodorus di Liwa, sekitar 1,5 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Lampung Barat.

Pelayanan antarstasi menuntut perjuangan tersendiri karena jarak tempuh yang jauh dan medan yang berat. Akses menuju sejumlah stasi harus melewati pegunungan, sungai, serta jalan tanah bercampur lumpur, yang semakin sulit dilalui saat musim hujan, khususnya menuju Mayus–Basongan, Malang–Suoh, Talang Gendung–Suoh, Sumber Agung–Suoh, dan beberapa wilayah di Sumberjaya. Jarak Liwa ke Suoh misalnya, dapat ditempuh 1–2 jam dengan sepeda motor dalam kondisi cuaca cerah, namun akan lebih lama saat hujan, terlebih jika Sungai Semangka meluap sehingga umat harus menunggu surut untuk menyeberang menggunakan rakit bambu sebagai satu-satunya sarana penyeberangan. Alternatif jalan darat melalui areal bekas letusan pun kerap sulit dilalui karena berlumpur dan penuh kubangan.

Perjalanan dari Liwa ke Pasar Minggu memakan waktu 2–3 jam dengan melintasi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan pada musim hujan kerap terkendala longsor atau pohon tumbang. Menuju Mayus–Basongan diperlukan sekitar tiga jam melewati pegunungan dan kebun kopi, sementara Liwa–Sekincau dapat ditempuh sekitar satu jam, Liwa–Sidomakmur satu setengah jam, dan Liwa–Sumberjaya antara dua hingga tiga jam tergantung lokasi rumah tempat ibadat berlangsung, terutama jika berada di Way Tebu.

Berdasarkan sensus Desember 2012, jumlah umat di Unit Pastoral Santo Theodorus Liwa tercatat sebanyak 170 kepala keluarga. Rinciannya adalah Liwa 65 KK, Sekincau 28 KK, Malang–Suoh 15 KK, Talang Gendung–Suoh 4 KK, Sumber Agung–Suoh 4 KK, Pasar Minggu 26 KK, Sumberjaya 14 KK, dan Sidomakmur 14 KK. Tempat tinggal umat saling berjauhan, berkisar 3 hingga 25 kilometer, tersebar lintas kelurahan dan kecamatan di wilayah dataran maupun pegunungan. Kondisi ini menyulitkan pembentukan kelompok doa lingkungan, terutama di stasi Liwa, Pasar Minggu, Sekincau, dan Sumberjaya, bahkan ada umat yang tinggal hingga wilayah Simpang Sender dan Banding Agung arah Danau Ranau yang telah masuk Provinsi Sumatera Selatan.

Sebagian besar umat bermata pencaharian sebagai petani padi, kopi, dan sayur-mayur, sementara lainnya berdagang, dengan banyak umat berasal dari Sumatera Utara yang merantau untuk mencari penghidupan. Selain pelayanan pastoral di setiap stasi, paroki juga mendampingi tiga komunitas susteran yang berada di wilayahnya. Di Liwa terdapat komunitas Suster FSGM berjumlah tiga orang, sedangkan di Sekincau terdapat dua komunitas, yakni Suster HK berjumlah tiga orang dan Suster Klaris berjumlah sepuluh orang. Kehadiran para suster diterima dengan baik oleh masyarakat dan menjadi wujud nyata Gereja Katolik yang hidup serta bertumbuh bersama masyarakat Lampung Barat. Karya mereka mencakup pengolahan lahan pertanian serta bantuan pastoral di stasi terdekat.

Secara umum kehidupan umat Katolik di Lampung Barat berlangsung damai dan harmonis dengan masyarakat sekitar. Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) berperan penting sebagai wadah dialog dan komunikasi antarumat beragama, khususnya di kalangan para tokoh agama, sehingga memperkuat kerukunan dan sikap saling menghormati. Dialog kehidupan sehari-hari lebih mudah diterima dibanding dialog formal berbasis identitas agama. Oleh karena itu, sikap bijaksana, kemampuan menempatkan diri dalam pergaulan sosial, serta kepekaan dalam bertutur dan bersikap menjadi kunci menjaga keharmonisan bersama, karena dialog kehidupan merupakan jembatan perjumpaan dan persaudaraan di tengah keberagaman.

Masuknya Fransiskan di Unit Pastoral St. Theodorus

Kehadiran Ordo Fransiskan di Unit Pastoral ini tidak terlepas dari peran Sdr. Bambang Trimargono yang pada 1 Februari 2014 menerima penugasan sebagai dokter di Rumah Sakit Maria Regina Kotabumi. Dalam menjalankan tugas tersebut, Sdr. Bambang didampingi Sdr. Bonivantura Yulianus Lelo (Bovan) untuk memulai kembali jejak misi Fransiskan di Lampung yang pernah dirintis oleh J. Wahyosudibyo, OFM pada tahun 1946.

Kedatangan kedua saudara ini diantar oleh Sdr. Adrianus Sunarko selaku Menteri Provinsial, dan dalam kesempatan itu mereka sempat mengunjungi Unit Pastoral Santo Theodorus dengan maksud bersilaturahmi ke komunitas Suster Klaris Kapusin di Sekincau. Di Sekincau, mereka diperlihatkan lukisan perjalanan hidup Santo Fransiskus Asisi yang tergambar di dinding Gereja Stasi Santo Fransiskus Asisi, salah satu stasi dalam wilayah Unit Pastoral Santo Theodorus. Pada saat itu, para suster menyampaikan harapan agar para saudara Fransiskan suatu hari dapat berkarya dan melayani di wilayah tersebut.

Tanpa diduga, dua tahun kemudian harapan itu menjadi kenyataan. Pada 1 Agustus 2016, para saudara Fransiskan memperoleh kepercayaan untuk menangani dua wilayah pelayanan sekaligus, yakni Unit Pastoral Santo Theodorus dan Paroki Keluarga Kudus Baradatu. Sdr. Bonivantura Yulianus Lelo bersama Sdr. Berman Sitanggang memulai pelayanan Fransiskan secara resmi di Unit Pastoral Santo Theodorus.

Dalam perjalanan selanjutnya, para saudara berupaya membangun kemandirian dan penguatan tata kelola pastoral hingga akhirnya pada 7 September 2019 status Unit Pastoral Santo Theodorus ditingkatkan menjadi Paroki Santo Theodorus. Peningkatan status ini dirayakan bersamaan dengan pemberkatan Gereja Paroki, Gereja Stasi Santo Paulus Pasar Minggu, dan Gereja Stasi Santo Antonius Padua. Hingga kini, karya dan pelayanan Fransiskan terus berlanjut sebagai bagian dari dinamika pertumbuhan Gereja di wilayah tersebut.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Gereja Santo Theodorus, Liwa. Revisi 29717148. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29717148. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Gereja Santo Theodorus, Liwa sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-06T13:57:34Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Gereja Santo Theodorus, Liwa · revisi 29717148 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-06T13:57:34Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi