Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R600774954
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID774954. Asal dan lisensi uraian
BangunanBanjarmasin, Kalimantan Selatan, IndonesiaARS-R600774954

Katedral Banjarmasin

Katedral Banjarmasin yang bernama resmi Gereja Katedral Keluarga Kudus (bahasa Belanda: Heilige Familie Kathedraal, bahasa Inggris: Holy Family Cathedral), adalah sebuah gereja katedral Katolik yang menjadi pusat kedudukan dan takhta Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Keagamaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Katedral Banjarmasin dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Katedral Banjarmasin sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Katedral Banjarmasin
Lokasi
Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q12483948; ID774954
Klasifikasi sumber
keagamaan · nomor ID774954
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Katedral Banjarmasin yang bernama resmi Gereja Katedral Keluarga Kudus (bahasa Belanda: Heilige Familie Kathedraal, bahasa Inggris: Holy Family Cathedral), adalah sebuah gereja katedral Katolik yang menjadi pusat kedudukan dan takhta Keuskupan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Indonesia. Gereja ini merupakan salah satu katedral tertua di Kalimantan.

Bangunan awal didirikan pada 28 Juni 1931, berupa sebuah gedung kayu yang sebelumnya digunakan sebagai losmen di Jalan Lambung Mangkurat nomor 4. Namun, pada 19 April 1936, gereja dipindahkan ke bangunan baru di Jalan Lambung Mangkurat nomor 40, yang dibangun dengan bahan beton sehingga lebih kokoh.

Pada tahun 1938, seiring dengan terbentuknya Prefektur Apostolik Banjarmasin, gereja ini resmi diangkat menjadi katedral, menandai perannya sebagai pusat kehidupan rohani umat Katolik di wilayah tersebut.

Sebelum kemerdekaan (1936–1945)

Katedral Banjarmasin awalnya merupakan bagian dari Vikariat Apostolik Borneo Olandese. Namun, pada 21 Mei 1938 dibentuklah Prefektur Apostolik Banjarmasin yang dimekarkan dari Vikariat tersebut. Prefektur Apostolik ini kemudian dipimpin oleh Mgr. Jacobus Kusters.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, bendera Sang Saka Merah Putih pernah dikibarkan di menara Gereja Katedral Banjarmasin pada masa perjuangan kemerdekaan. Pada masa pendudukan Jepang, Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin sempat dialihfungsikan menjadi gedung pengadilan oleh pemerintah militer Jepang.

Meski demikian, umat Katolik di Banjarmasin berupaya keras melindungi bagian Panti Imam agar bangunan utama tetap terjaga. Berkat usaha tersebut, gereja ini tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga menjadi simbol keteguhan iman umat Katolik di tengah masa sulit. Oleh karena itu, Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin dan komunitas Katolik di kota ini sering dikaitkan dengan sejarah pergerakan kemerdekaan di Banjarmasin.

Pasca kemerdekaan (1945–1999)

Dalam perjalanan sejarah Gereja Katedral, pada tanggal 10 Maret 1949 Prefektur Apostolik Banjarmasin ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Banjarmasin di bawah pimpinan Pater Johannes Groen, M.S.F. Setelah ditahbiskan menjadi uskup pada 16 Juni 1949, Groen dilantik sebagai Vikaris Apostolik Banjarmasin pada 15 Oktober 1949. Meskipun Gereja Katolik dilarang di sebagian wilayah Kalimantan Selatan, Banjarmasin tetap menjadi pusat kegiatan gerejawi bagi umat Katolik.

Pada tanggal 6 Januari 1954, Mgr. Wilhelmus Johannes Demarteau, M.S.F. menerima penunjukan sebagai Vikaris Apostolik Banjarmasin yang kedua. Lima bulan kemudian, pada 5 Mei 1954, ia ditahbiskan menjadi Vikaris Apostolik Banjarmasin bergelar Uskup Tituler Arsinoes in Cypro di Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin oleh Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia Georges de Jonghe d'Ardoye, M.E.P. Adapun Vikaris Apostolik Semarang Albertus Soegijapranata, S.J. dan Vikaris Apostolik Borneo Belanda Tarcisius Henricus Josephus van Valenberg, O.F.M. Cap. bertindak sebagai uskup penahbis pendamping. Motto tahbisannya adalah Apostolus Jesu Christi yang berarti "Rasul Yesus Kristus". Pada 3 Januari 1961, Vikariat Apostolik Banjarmasin ditingkatkan menjadi Keuskupan Banjarmasin.

Katedral Banjarmasin mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik dari segi bertambahnya jumlah umat, perbaikan infrastruktur, maupun pelayanan dalam kegiatan gereja. Puncak perkembangan tersebut terjadi pada 3 Januari 1961, ketika Vikariat Apostolik Banjarmasin resmi ditingkatkan menjadi Keuskupan Sufragan Bandjarmasin yang berada di bawah naungan Keuskupan Agung Pontianak. Keuskupan baru ini dipimpin oleh Mgr. Wilhelmus Joannes sebagai uskup pertama yang memimpin Keuskupan Banjarmasin.

Pada dekade 1980-an, dibangun Gedung Aula Sasana Sehati di belakang Gereja Katedral Banjarmasin. Gedung ini difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan pelayanan gereja, seperti retret, pertemuan umat, serta perayaan misa besar pada hari raya Paskah dan Natal. Selain itu, keberadaan gedung ini juga membantu mengatasi keterbatasan kapasitas umat di dalam gereja utama, sehingga umat dapat tetap mengikuti perayaan liturgi dengan lebih nyaman.

Sebagai pusat Keuskupan Banjarmasin, gereja ini menjadi tempat penting bagi umat Katolik di wilayah tersebut untuk beribadah dan menerima sakramen. Selain itu, gereja ini juga menjadi pusat kegiatan pastoral, sosial, dan keagamaan, seperti katekese, pembaptisan, pernikahan, dan pemakaman. Mayoritas umat Katolik di Keuskupan Banjarmasin saat ini terdiri dari para pendatang dan bukan berasal dari Suku Banjar. Bahkan umat Katolik Suku Dayak yang berasal dari Kalimantan Tengah juga dapat dianggap sebagai pendatang.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan hampir tidak terdapat umat Katolik dari Suku Banjar. Salah satunya adalah keterbatasan kegiatan misi dan penyebaran agama, serta kurangnya pewartaan Injil dan nilai-nilai iman Katolik yang terbuka kepada masyarakat Banjar. Kondisi ini menyebabkan pengetahuan mengenai agama Katolik di kalangan masyarakat Banjar yang mayoritas beragama Islam relatif terbatas. Selain itu, pada masa awal perkembangan misi Katolik di Kalimantan, perhatian lebih banyak diarahkan kepada Suku Dayak yang dipandang sebagai penduduk asli Kalimantan, sehingga masyarakat Banjar relatif kurang tersentuh oleh kegiatan pewartaan. Di samping itu, isu kristenisasi dan situasi politik pada era 1960-an turut membatasi upaya para misionaris dalam menyebarkan agama Katolik di kalangan Suku Banjar. Akibatnya, agama Katolik tidak berkembang secara kuat dan tidak berakar secara luas dalam masyarakat maupun kebudayaan Banjar di Kalimantan Selatan.

Tidak terdapat data yang lengkap mengenai jumlah umat Katolik pada masa awal perkembangan Gereja, tetapi jumlah mereka diperkirakan tidak banyak. Pada akhir tahun 1940, tercatat hanya terdapat 375 umat Katolik di wilayah Kalimantan Selatan saat itu (yang kini mencakup Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah), terdiri atas 106 umat Katolik Indonesia dan 269 umat Katolik asing. Mereka merupakan komunitas kecil yang tersebar di wilayah yang sangat luas.

Pada tanggal 22 Agustus 1973, Keuskupan Bandjarmasin secara resmi berganti nama menjadi Keuskupan Banjarmasin. Perubahan ini dilakukan sebagai penyesuaian terhadap perbaikan ejaan bahasa Indonesia, sehingga nama keuskupan lebih sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku.

Di Paroki Katedral, umat Katolik hidup dalam kebersamaan dengan para imam yang silih berganti memberikan pelayanan pastoral. Mereka membentuk komunitas yang disebut "kring" dan saling mengenal satu sama lain. Pada tahun 1981 terdapat banyak kring di Paroki Katedral. Namun, mulai tahun 1982, Pastor Paroki bersama Dewan Paroki menyederhanakan kring-kring tersebut menjadi empat wilayah yang diberi nama Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes. Seiring bertambahnya jumlah umat, Paroki Katedral kemudian berkembang menjadi delapan wilayah, yaitu Yohanes, Paulus, Petrus, Agustinus, Lukas I, Lukas II, Matius, dan Markus, serta dua stasi, yaitu Marabahan dan Belawang. Pada tahun 2012, jumlah umat Katolik di paroki ini mencapai 1.602 orang.

Di tengah perkembangannya, Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin juga pernah mengalami masa sulit. Ketika kerusuhan di Banjarmasin terjadi pada Jumat, 23 Mei 1997, Gedung Sasana Sehati yang berada di kompleks Gereja Katedral sempat diamuk massa. Pada saat itu, Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin sedang menjalani renovasi. Kaca-kaca jendela yang baru dipasang pecah, kursi-kursi di Gedung Sasana Sehati dibakar oleh massa yang tidak bertanggung jawab, dan patung Yesus, Bunda Maria, serta Santo Yosef turut dirusak. Namun, secara mengejutkan api tidak menjalar ke bangunan utama, yaitu Katedral Keluarga Kudus. Meski kaca-kaca jendela gereja pecah akibat lemparan batu, bangunan utama tetap bertahan dan tidak mengalami kerusakan besar. Setelah massa bubar dari kompleks Katedral, gereja tetap berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan iman umat Katolik di Banjarmasin.

Saat kursi-kursi dibakar di Gedung Sasana Sehati, beberapa pemuda anggota PMKRI, sejumlah personel tentara, serta seorang koster bernama Alfonsus Yustinus Sukadi berupaya memadamkan api sehingga kebakaran yang lebih luas dapat dicegah. Pada saat yang sama, Pastor Stephanus Bijanta, C.M., dan Pastor Simon Edy Kabul Teguh Santoso, Pr., bersama beberapa umat segera menyelamatkan sejumlah dokumen paroki ke tempat yang aman dengan melewati kerumunan massa. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pengalaman yang menegangkan dan mengerikan bagi mereka yang terlibat dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai "Jumat Kelabu" di Banjarmasin.

Setelah kerusuhan di Banjarmasin pada tahun 1997, gereja ini menjalani renovasi besar. Kaca jendela yang pecah diganti, Aula Sasana Sehati diperbaiki, serta perabot seperti kursi dan meja diperbarui. Rumah pastoran lama di samping gereja dibongkar dan dijadikan area parkir umat yang hendak mengikuti ibadah. Bagian interior juga diperbarui, termasuk penggantian patung-patung, salib lama, serta ubin lantai yang diganti dengan keramik. Setelah renovasi ini, gereja kembali layak digunakan untuk ibadah dan tetap menjadi pusat kegiatan rohani umat Katolik di Banjarmasin.

Pada tahun 1998, dibangun Gua Maria di kompleks Katedral Banjarmasin sebagai tempat doa dan devosi kepada Bunda Maria. Gua Maria ini masih digunakan hingga sekarang dan dibuka setiap hari bagi umat.

Abad ke-21 (sejak 2000)

Katedral Banjarmasin mengalami beberapa tahap perkembangan setelah melewati berbagai masa sulit. Berkat dukungan umat dan para imam, Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin tetap berfungsi hingga sekarang.

Pada 29 Januari 2003, terjadi perubahan yurisdiksi gerejawi. Keuskupan Banjarmasin dipindahkan dari Keuskupan Agung Pontianak ke Keuskupan Agung Samarinda dan tetap berada di bawah provinsi gerejawi tersebut hingga saat ini.

Pada tahun 2007, katedral kembali direnovasi. Plafon kayu diganti dengan material yang lebih kuat, sistem pendingin udara (AC) dipasang, lampu diperbarui, dinding dicat ulang, dan sistem pengeras suara (sound system) ditingkatkan.

Pada tahun 2011, dibangun rumah pastoran paroki di kompleks Katedral Banjarmasin. Rumah ini difungsikan sebagai tempat tinggal pastor paroki, pastor rekan, serta para frater yang sedang bertugas di Paroki Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin.

Pada tahun yang sama, didirikan toko rohani "A Sacra Familia" untuk melayani kebutuhan umat akan berbagai perlengkapan rohani, seperti salib, rosario, dan sarana devosi lainnya.

Selain itu, kanopi lama di samping gereja dibongkar dan diganti dengan kanopi baru berbahan baja yang lebih kokoh, sehingga memberikan perlindungan yang lebih baik bagi umat.

Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin masih berdiri hingga saat ini sebagai salah satu bangunan gereja Katolik bersejarah di Kota Banjarmasin. Dalam perkembangannya, pernah muncul usulan untuk membongkar bangunan lama dan menggantinya dengan gereja yang lebih besar. Namun, bangunan Katedral tetap dipertahankan dalam bentuk dasarnya, antara lain karena nilai sejarah yang melekat padanya serta adanya pesan dari seorang imam paroki terdahulu agar bangunan tersebut tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Selain itu, keterbatasan luas lahan di kompleks Katedral Banjarmasin menjadi salah satu faktor yang membatasi kemungkinan pembangunan gereja baru yang berukuran lebih besar. Karena itu, bangunan katedral yang ada tetap digunakan dan dipelihara hingga sekarang.

Keberadaan Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin juga berkaitan dengan sejarah perkembangan agama-agama di Banjarmasin. Sebelum hadirnya Gereja Katolik, wilayah ini telah dipengaruhi oleh tradisi Hindu, Buddha, dan Islam, serta menjadi tempat berkembangnya komunitas Konghucu (antara lain melalui kehadiran Kelenteng Suci Nurani di Jalan Veteran) dan Kristen Protestan (antara lain melalui kehadian Gereja Kalimantan Evangelis Eppata di Jalan D.I. Panjaitan). Dibandingkan dengan agama-agama tersebut, Gereja Katolik hadir pada periode yang lebih kemudian melalui karya para Misionaris Keluarga Kudus di Kalimantan Selatan.

Patung

Terdapat dua buah patung di dalam Gereja Katedral Banjarmasin, yakni Patung Bunda Maria, Yesus Kristus, dan Yusuf dan juga Patung Bunda Maria dan Yesus Kristus. Patung Bunda Maria, Kanak-kanak Yesus, dan Santo Yusuf melambangkan kasih, perlindungan, serta kerendahan hati dalam Keluarga Kudus. Bunda Maria digambarkan penuh kasih sebagai ibu, Yesus sebagai anak yang bersandar pada orang tua-Nya, dan Yusuf sebagai pelindung keluarga. Di hadapan patung ini, umat berdoa dan menyalakan lilin sebagai ungkapan iman serta devosi kepada Allah melalui teladan Keluarga Kudus.

Patung Bunda Maria yang menggendong Kanak-kanak Yesus melambangkan kasih, perlindungan, dan pengorbanan dalam karya keselamatan Allah. Pakaian putih Bunda Maria melambangkan kemurnian dan kesucian, sedangkan pakaian merah Yesus melambangkan kasih serta pengorbanan-Nya bagi umat manusia. Patung ini menggambarkan kelembutan seorang ibu yang melindungi anaknya sekaligus mengajak umat merenungkan kasih Bunda Maria dan penebusan yang dibawa oleh Kristus.

Menara jam

Pada menara gereja, terdapat lonceng besar yang dibuat oleh pabrik peleburan Koninklijke Klokkengieterij Petit & Fritsen di Aarle-Rixtel, Belanda, dan didatangkan langsung pada masa pembangunan Katedral. Lonceng ini berdentang otomatis setiap jam melalui sistem mekanis yang terhubung dengan mesin penunjuk waktu. Mekanisme jam menara tua yang menggunakan bandul dan pemberat sebagai sumber tenaga ini dibuat oleh pabrik jam menara dan lonceng Torenuurwerken Fabriek De Klok di Aarle-Rixtel, Belanda. Terletak di bagian atas menara, mesin tersebut menggerakkan jarum jam pada keempat sisi menara gereja dan berfungsi sebagai penunjuk waktu bagi Kota Banjarmasin pada masa kolonial Belanda.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Awal pembangunan (1931–1936)

Pada dekade 1920-an, ketika para misionaris Keluarga Kudus (MSF) memulai misinya di Banjarmasin, mulai bermunculanlah umat Katolik di daerah tersebut. Pada awalnya, ibadah dilaksanakan di luar ruangan maupun di rumah-rumah umat. Namun, seiring dengan bertambahnya jumlah umat, pada tahun 1931 dibelilah sebuah losmen kayu sederhana yang terletak di Jalan Boomstraat No. 4 (kini Jalan Lambung Mangkurat). Losmen tersebut kemudian dirombak sehingga menjadi tempat ibadah yang layak. Di gereja sederhana itu, umat melaksanakan ibadah serta menerima berbagai sakramen. Ibadah awal dipimpin oleh para pastor misionaris, yakni Pastor Vosen, MSF dan Pastor Groen, MSF.

Seiring berjalannya waktu, jumlah umat Katolik di Banjarmasin terus meningkat. Gereja lama yang berasal dari bangunan losmen tersebut semakin rapuh dan tidak lagi memadai. Maka pada tahun 1935, MSF membeli sebidang tanah kosong yang berlokasi di Jalan Lambung Mangkurat No. 40 yang sebelumnya dimiliki perusahaan dagang Borsumij. Tanah itu semula diberikan kepada pemerintah pada tahun 1921 untuk dijadikan kompleks gubernuran, tetapi rencana tersebut dibatalkan karena lokasinya berdekatan dengan penjara tua yang kurang terawat. Tanah tersebut kemudian disewa, lalu dibeli oleh MSF dengan harga 5.746 Gulden Belanda.

Gereja Katedral baru dirancang oleh Roestenbrug, seorang arsitek Belanda. Beberapa minggu kemudian, rancangan selesai, dan pembangunan pun dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Pastor Groen pada 20 November 1935. Pembangunan diawasi oleh Bruder Longinus sebagai penanggung jawab. Gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur neo-Gotik khas Eropa, menggunakan batu bata dan semen—material yang langka pada masa itu—serta dilengkapi menara setinggi 17 meter.

Dalam waktu lima bulan, pembangunan selesai dengan total biaya 29.000 Gulden. Rinciannya: 22.000 Gulden untuk pembangunan gereja, dan 7.000 Gulden untuk pengukuran lahan serta pembangunan rumah pastoran di sebelah gereja. Setelah bangunan selesai, Perayaan Ekaristi terakhir di gereja lama dilaksanakan pada 16 Maret 1936. Kemudian, pada 22 Maret 1936, misa pertama dirayakan di gereja baru.

Satu minggu setelah Paskah, tepatnya 19 April 1936, gereja diberkati oleh Pastor Groen yang saat itu menjabat sebagai Superior MSF. Upacara pemberkatan dihadiri oleh Komandan Teritorial KNIL, Komandan KNIL setempat, Wakil Residen (karena Residen sedang sakit), Sekretaris Kotapraja, serta pimpinan Serikat Islam setempat. Lagu-lagu Gregorian dinyanyikan oleh para bruder Kongregasi Maria Tak Bernoda (MTB). Dalam khotbahnya, Pastor Groen mengangkat Mazmur 122 sebagai tema utama: “Aku gembira ketika orang berkata kepadaku: Marilah kita ke rumah Allah.”

Maka dipindahkanlah Gereja Katedral dari bangunan lama berupa losmen kayu yang sudah tua dan rapuh ke gedung baru yang dibangun dengan bahan beton yang lebih kokoh. Sejak saat itu, gereja tersebut dikenal oleh masyarakat Banjarmasin dengan sebutan “Gereja Batu”, karena konstruksinya yang berbeda dari bangunan sekitarnya yang umumnya masih menggunakan kayu. Hingga kini, sebutan tersebut tetap melekat sebagai identitas khas Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin.

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Katedral Banjarmasin. Revisi 29969408. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29969408. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Katedral Banjarmasin sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-25T13:04:36Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Katedral Banjarmasin · revisi 29969408 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-25T13:04:36Z
  2. Wikidata P625 · Katedral Banjarmasin ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-02-07T08:14:13Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi