Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R600124944
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID124944. Asal dan lisensi uraian
BangunanTasikmalaya, Jawa Barat, IndonesiaARS-R600124944

Masjid Agung Manonjaya

Masjid Agung Manonjaya adalah masjid yang terletak di Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Bagian utara dan selatan masjid berbatasan dengan jalan raya.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Keagamaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Masjid Agung Manonjaya dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Agung Manonjaya sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Masjid Agung Manonjaya
Lokasi
Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q12497260; ID124944
Klasifikasi sumber
keagamaan · nomor ID124944
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Masjid Agung Manonjaya adalah masjid yang terletak di Desa Manonjaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Bagian utara dan selatan masjid berbatasan dengan jalan raya. Sedangkan bagian timur berbatasan dengan Sekolah Dasar dan alun-alun. Luas lahannya seluas 6159 m2 dengan keadaan tanah mengandung pasir dengan ketinggian 1 meter dari permukaan tanah yang datar. Masjid Agung Manonjaya berbentuk persegi. Sekeliling masjid dikeilingi oleh pagar tembok. Arah masjid menghadap ke timur dengan pintu masuk halaman masjid terdapat di timur, utara, dan selatan. Pondasi masjid sangat padat dengan lantai dari tegel berwarna merah sedangkan lantai di depan mihrab dilapisi karpet hijau. Pada bagian timur terdapat penarnpil serambi yang menuju ke ruang salat dan menghubungkan koridor serambi. Masjid Agung Manonjaya juga punya pawestren, gudang, dan perpustakaan. Pemerintah sudah menetapkan Masjid Manonjaya yang memiliki luas 1.250 meter persegi ini menjadi kawasan cagar budaya. Ketetapan pemerintah itu dikeluarkan oleh Badan Arkeologi RI yang merujuk UU Kepurbakalaan pada 1 September 1975 bersama dengan Masjid Agung Sumedang.

Arsitektur

Dari segi arsitekturnya, Masjid Agung Manonjaya ini begitu kental dengan nuansa Neoklasik, seperti kekhasan bangunan di Eropa. Secara umum, arsitektur Masjid ini memadukan desain Eropa dengan arsitektur tradisional Sunda. Nuansa tradisional itu sangat terasa dengan bentuk dari elemen bangunan, seperti ruang salat untuk wanita, serambi (pendopo) di sebelah timur, dan mustaka (memolo) yang konon merupakan peninggalan dari Syekh Abdul Muhyi, ulama asal Pamijahan, Tasikmalaya Selatan. Beberapa unsur bangunan yang sangat khas dan melambangkan percampuran unsur tradisional dengan Eropa klasik itu adalah atap tumpang tiga, serambi (pendopo), dan struktur saka guru yang terdapat di tengah-tengah ruang salat.

Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan tiang saka guru yang berjumlah 10 buah. Konstruksi tiang-tiang saka guru tampak berbeda dibandingkan konstruksi serupa yang lazim ada di bangunan masjid-masjid masa lalu dan masa kini. Bila Masjid Agung Demak menggunakan tiang saka guru yang terbuat dari kayu, sebaliknya tiang saka guru Masjid Manonjaya ini menggunakan material pasangan batu bata. Masing-masing tiang saka guru berbentuk persegi delapan dengan diameter 80 cm. Di masjid ini terdapat 51 tiang dari total 61 tiang yang ada dengan diameter antara 50-80 sentimeter (cm) yang terletak di beranda masjid. Tepat di depan beranda itu juga bisa menikmati keindahan dan kekokohan dua buah menara yang pada masa lalu digunakan muazin untuk mengumandangkan azan. Kedua menara itu persis mengapit pintu gerbang utama yang menghadap langsung ke alun-alun Manonjaya.

Kekhasan lainnya dari masjid ini adalah keberadaan mustaka (memolo) di atas atap tertinggi masjid dengan konsep Tri tangtu dalam Budaya Sunda. Seperti umumnya masjid yang dibangun pada masa lalu, Masjid Agung Manonjaya ini juga menggunakan bahan yang terbuat dari kayu jati, kapur, dan tanah liat. Ketiga material itu digunakan sebagai bahan struktur rangka dan campuran tembok masjid.

Bangunan masjid yang didominasi warna putih dengan atap warna hijau, memiliki arsitektur khas. Selain ornamen bergaya campuran tradisional maupun luar, masjid ini juga disangga puluhan tiang berukuran besar. Dari total luas lahan sekira 6.159 m2, terbagi menjadi beberapa bagian yaitu bangunan utama masjid dengan luas sekira 637,5 m2 dan bangunan tambahan 289,5 m2. Masjid tersebut berdiri kokoh dengan disangga sekira 62 tiang. Tiang yang menyangga bangunan utama terdapat sekira 30 buah dan penyangga bangunan tambahan sekira 32 buah.

Gempa Tasikmalaya Merobohkan Masjid Agung Manonjaya

Gempa yang terjadi Rabu, 2 September 2009 menghancurkan masjid sarat sejarah yang berdiri sejak 1832 itu. Sebanyak 60 tiang penyangga yang kerap disebut Dalem Sewidak tak mampu menahan kuatnya gempa. Bagian depan masjid roboh seketika. Kini tinggal kayu-kayu penyangga atap masjid yang berserakan. Untungnya, saat kejadian tak ada orang di dalam masjid.

Sampai saat ini rehabilitasi Masjid Agung Manonjaya masih belum selesai, padahal Masjid Agung Manonjaya merupakan masjid yang dikategorikan Situs Purbakala di mana perawatan dan pemeliharaannya menjadi tanggung jawab pemerintah Pusat, yang di mana warga yang ingin membantu merehabilitasi Masjid tersebut terkendala dengan status ke Purbakalaan.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Sejarah

Keberadaan masjid tersebut tidak lepas dari sejarah Tasikmalaya. Adanya Masjid Manonjaya ini, karena Manonjaya pernah menjadi ibu kota Tasikmalaya. Lebih dari seratus tahun silam, Kec. Manonjaya pernah menjadi ibu kota Kab. Tasikmalaya. Namun, ketika itu namanya masih disebut dengan Kab. Sukapura.

Pada awal abad ke-19, wilayah Sukapura di bawah kekuasaan Pajajaran mengalami transformasi signifikan akibat pengaruh Islam yang semakin kuat di Priangan Timur. Cikal bakal masjid ini adalah bangunan kecil sederhana yang telah berdiri sebelumnya, mencerminkan mayoritas penduduk Muslim dengan populasi mencapai ribuan jiwa pada 1831. Pemindahan ibu kota didasari kebutuhan strategis untuk memperkuat pusat pemerintahan dan syiar Islam, sehingga masjid baru dibangun menghadap alun-alun sebagai titik sentral kegiatan keagamaan dan sosial.

Selama periode kolonial Belanda, masjid ini berkembang menjadi pusat penyebaran ajaran Islam di Tasikmalaya. Pada 1889, bupati selanjutnya, Raden Tumenggung Wiraatmaja, memerintahkan pelebaran serambi untuk mengakomodasi jamaah yang semakin bertambah, menunjukkan peran masjid sebagai wadah ibadah komunal yang vital. Bangunan asli dengan arsitektur campuran neoklasik Eropa dan tradisional Sunda-Jawa bertahan, meski menghadapi tantangan alam seperti gempa kecil yang sering terjadi di wilayah tersebut.

Pasca-kemerdekaan Indonesia, masjid mengalami renovasi pertama pada 1952 yang fokus pada perbaikan atap dan pelebaran ruang utama, diikuti pemeliharaan struktural pada 1977 setelah gempa bumi yang merusak sebagian dinding dan atap. Pada 1975, masjid secara resmi ditetapkan sebagai cagar budaya nasional oleh Badan Arkeologi RI, menegaskan nilai sejarahnya sebagai saksi bisu perkembangan Islam di Jawa Barat.

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Agung Manonjaya. Revisi 29722444. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29722444. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Agung Manonjaya sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-07T14:55:55Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Agung Manonjaya · revisi 29722444 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-07T14:55:55Z
  2. Wikidata P625 · Masjid Agung Manonjaya ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-26T17:29:03Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi