Masjid Al-Mansur
Masjid Al-Mansur atau semula bernama Masjid Jami Kampung Sawah, adalah salah satu masjid tua di wilayah DKI Jakarta. Mengambil nama Guru Mansur (1878-1967), masjid yang terletak di Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, ini dibangun pada tahun 1717.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Keagamaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Masjid Al-Mansur dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: DKI Jakarta, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Masjid Al-Mansur
- Lokasi
- DKI Jakarta, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q38251548; ID2445624
- Klasifikasi sumber
- keagamaan · nomor ID2445624
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, susunan ruang, atap atau kubah, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Masjid Al-Mansur atau semula bernama Masjid Jami Kampung Sawah, adalah salah satu masjid tua di wilayah DKI Jakarta. Mengambil nama Guru Mansur (1878-1967), masjid yang terletak di Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, ini dibangun pada tahun 1717.
Berganti nama
Di samping ulama yang dimalui, Guru Mansur adalah pejuang dan penganjur kemerdekaan Indonesia yang gigih. Pada tahun 1925 ia menentang keras pembongkaran Masjid Al-Makmur di Cikini, meskipun pembongkaran itu telah disetujui oleh Pengadilan Agama Pemerintah Kolonial Belanda. Pembongkaran itu akhirnya dibatalkan. Pada masa-masa pendudukan NICA di Jakarta pada tahun 1948, Guru Mansur acap berurusan dengan Hoofdbureau (biro pusat) Kepolisian Belanda di Gambir karena mengibarkan bendera merah-putih di atas menara masjid. Meskipun berulang kali dibujuk hingga diintimidasi, Guru Mansur tetap bertahan.
Untuk menghormati dan mengenang sumbangsih serta perjuangan Guru Mansur, setelah ia wafat pada tahun 1967 masjid ini diganti namanya menjadi Masjid Al-Mansur. Pada tahun 1980, masjid ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya di DKI Jakarta.
Keadaan fisik
Arsitektur masjid ini merupakan perpaduan antara budaya Jawa, Tiongkok, Arab dan Betawi. Empat buah soko guru yang besar-besar tetapi pendek terdapat di ruang utama masjid, mengingatkan pada masjid-masjid kuno di Jawa Tengah. Demikian pula bentuk atapnya, yang merupakan limasan bersusun tiga. Bagian masjid yang tertua kiranya adalah ruang utama ini yang berukuran 12 × 14,40 m.
Pintunya berdaun dua, dengan ambang sebelah atas berbentuk bundar dihiasi gebyok berukir. Jendela-jendelanya berbentuk sederhana, dengan kusen persegi panjang dipasangi terali kayu dibubut, seperti pada Masjid Angke dan Masjid Said Na'um. Kini, tembok, jendela dan pintu di semua sisinya telah dimajukan sejauh 10 meter, untuk memberikan ruang yang lebih luas.
Menara masjid, kini dasarnya tercakup dalam ruangan baru di depan masjid lama, berbentuk silinder setinggi dua belas meter. Pada bagian keempat dan kelima dari menara itu terdapat teras yang berpagar besi. Sementara atap menara berbentuk kubah. Menara semacam ini mencerminkan pengaruh Arab Hadramaut.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Menurut inskripsi yang terdapat pada menara masjid, bangunan ini didirikan tahun 1130 H (1717 M). Pada saat itu disebut Masjid Kampung Sawah, rumah ibadah ini dibangun oleh Abdul Mihit (Abdul Mukhit, menurut sejarawan Ridwan Saidi), putera Pangeran Cakrajaya dari Mataram.
Guru Mansur yang bernama lengkap Muhammad Mansur bin Imam Abdul Hamid adalah piut atau canggah dari Abdul Mukhit pendiri Masjid Kampung Sawah tersebut. Guru adalah julukan yang diberikan orang-orang Betawi terhadap ulama yang diakui kepakaran dan kedalaman ilmunya, sehingga diakui otoritasnya untuk mengeluarkan fatwa.
Bapak, kakek, dan buyut Guru Mansur adalah ulama-ulama Betawi yang diakui keilmuannya. Pada tanggal 4 Safar 1186 H, Masjid Kampung Sawah dikunjungi ulama besar Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, tatkala itu baru kembali dari Makkah dan singgah di Betawi, untuk bersilaturahim sekaligus diminta untuk mengoreksi arah kiblat masjid ini.
Pada tahun 1937, Masjid Kampung Sawah direhabilitasi dan diperluas oleh Guru Mansur.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Al-Mansur. Revisi 29973734. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29973734. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Al-Mansur sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-25T15:24:27Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Al-Mansur · revisi 29973734 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-25T15:24:27Z
- Wikidata P625 · Masjid Al-Mansur ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2024-12-20T19:09:58Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.