Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R602787323
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID2787323. Asal dan lisensi uraian
BangunanKoto Laweh, Sumatera Barat, IndonesiaARS-R602787323

Masjid Tuanku Pamansiangan

Masjid Tuanku Pamansiangan atau Masjid Tuanku Mansiangan terletak di Nagari Koto Laweh, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Indonesia. Masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak 1800-an dan dinamakan menurut nama pendirinya, yakni Tuanku Pamansiangan.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Bangunan
Fungsi
Keagamaan (kategori penelusuran)
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Masjid Tuanku Pamansiangan dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Koto Laweh, Sumatera Barat, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Tuanku Pamansiangan sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Bangunan lain pada tapak tidak otomatis menjadi bagian dari entitas ini.
Nama utama
Masjid Tuanku Pamansiangan
Lokasi
Koto Laweh, Sumatera Barat, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q65209194; ID2787323
Klasifikasi sumber
keagamaan · nomor ID2787323
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: keagamaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, atap atau kubah, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Masjid Tuanku Pamansiangan atau Masjid Tuanku Mansiangan terletak di Nagari Koto Laweh, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Indonesia. Masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak 1800-an dan dinamakan menurut nama pendirinya, yakni Tuanku Pamansiangan. Bangunannya terbuat dari kayu beratapkan seng. Masjid ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang dilindungi oleh pemerintah pada 2008.

Kondisi Masjid Tuanku Pamansiangan masih terawat baik sampai saat ini. Tiang-tiang penyangga yang terbuat dari kayu masih utuh sebagaimana aslinya. Masjid ini memiliki ciri khas berupa ornamen ukiran Minangkabau yang menghiasi tiang, jendela, dan dinding masjid.

Konstruksi

Denah bangunan Masjid Tuanku Pamansiangan berukuran 15,3 x 15,3 meter. Sebagaimana masjid berarsitektur Minangkabau lainnya, atap masjid ini berupa tajug, yakni bentuk limas bujur sangkar berundak-undak dengan permukaan melengkung ke dalam. Atap ditopang oleh sembilan tiang. Tiang utama masjid memiliki diameter 64 cm, lebih besar daripada tiang lainnya yang berdiameter 30 cm.

Masjid ini memiliki lantai yang ditinggikan dari permukaan tanah setinggi satu setengah meter dan bisa dinaiki melalui anak-anak tangga. Lantai terbuat dari papan yang sebagian besar sudah diganti dengan bahan baru.

Bukaan berupa jendela berjumlah enam yang masing-masing terdapat ukiran pada bagian atas lengkungannya.

Ornamen

Masjid Tuanku Pamansiangan memiliki ornamen berupa ukiran Minangkabau. Motif dari ukiran tersebut di antaranya berupa pola geometris dan tumbuhan-tumbuhan dengan warna terdiri dari merah, hijau, putih, dan coklat keemasan.

Bagian atas tiang utama memiliki motif pucuak rabuang, motif sikambang manih, dan motif sakek tagantuang. Adapun tiang lainnya hanya memiliki satu jenis motif, yakni pandan tajulai. Pucuak rabuang merupakan motif yang diambil dari bentuk pucuk rebung yaitu sejenis bambu muda yang masih kuncup dan belum memiliki daun. Sikambang manih berbentuk seperti bunga yang sedang mekar. Pandan tajulai yakni bentuk menyerupai dauan pandan.

Pada bidang dinding di bagian atas masjid yang mengarah ke mihrab, motifnya mengisi bidang berbentuk persegi. Di dalamnya, terdapat motif saik galamai dan bungo di bagian pinggir serta motif mangkuto dan kuciang lalok di bagian tengah. Di tengah-tengah, terdapat pula kaligrafi yang bertuliskan tahun renovasi masjid.

Motif mangkuto yakni bentuk mahkota sebagai pengaruh yang dibawa oleh bangsa Belanda.

Pada jendela masjid, motifnya mengisi bidang berbentuk setengah lingkaran berupa beberapa motif mangkuto dan motif kuciang lalok. Di pinggir jendela, dihiasi motif saik saik galamai dan bungo, sedangkan di bagian bawah dihiasi motif limpapeh. Motif limpapeh memiliki berbentuk rama-rama atau kupu-kupu.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Riwayat dalam arsip sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Sejarah

Cikal bakal keberadaan masjid ini berawal dari sebuah surau di lokasi yang sama yang didirikan oleh Tuanku Pamansiangan, seorang ulama Minangkabau yang mendakwahkan agama Islam di Tanah Datar. Lahir pada 1771, Tuanku Pamansiangan bernama asli Abdullah. Ia awalnya belajar agama kepada Syekh Kapeh-Kapeh Paninjauan, murid dari Syekh Burhanuddin di Ulakan. Setelah selesai belajar, Abdullah kembali ke Koto Laweh dan mendirikan surau untuk mendukung kegiatan dakwahnya. Lokasi berdirinya surau merupakan tanah rawa yang banyak tumbuh mensiang, yang selanjutnya melekat sebagai julukan Abdullah sehingga ia dikenal dengan nama Tuanku Pamansiangan atau Tuanku Mansiangan.

Seiring pertambahan jumlah murid, Tuanku Pamansiangan meluaskan suraunya menjadi masjid. Namun, tidak diketahui kapan pastinya surau tersebut berganti menjadi masjid. Dalam buku berjudul Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia yang ditulis Abdul Baqir Zien, Masjid Tuanku Pamansiangan diperkirakan telah berdiri sejak 1800-an. Adapun berdasarkan penelusuran Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Batusangkar, Masjid Tuanku Pamansiangan didirikan pada 1870.

Ketika pertama kali dibangun, Masjid Tuanku Pamansiangan memiliki bangunan terbuat dari bambu beratapkan ijuk. Abdul Baqir Zien mencatat, Masjid Tuanku Pamansiangan telah mengalami tiga kali direnovasi sejak didirikan dan saat ini bangunannya telah menggunakan kayu dengan atap dari seng. Penggantian material bangunan diperkirakan berlangsung pada 1903 sampai 1905, merujuk pada kaligrafi abjad Jawi yang terdapat pada bagian mihrab bertuliskan: "Mulai memahat tahun 1323 pada 14 Shafar mulai menyudah tahun 1325". Pengambilan bahan bangunan yakni kayu diperoleh dari hutan. Kayu-kayu digunakan sebagai tiang dan dinding. Sejak didirikan, tiang dan dinding Masjid Tuanku Pamansiangan masih utuh dan terawat sampai saat sekarang. Adapun pengerjaan pembangunan melibatkan tukang-tukang China.

Ide pemugaran masjid sempat mucul pada 1967, yakni mengganti bangunan masjid menjadi permanen dan mengubah bentuk yang ada sekarang. Awalnya, rencana tersebut mendapat dukungan dari sebagian masyarakat, tetapi urung dikarekanan akan menghilangkan nilai sejarah yang dimiliki masjid.

Sejak didirikan, masjid ini tidak mengalami perubahan berarti, kecuali perbaikan pada beberapa bagian seperti: atap yang dahulunya ijuk sudah diganti dengan atap seng dan papan lantai yang sudah lapuk diganti dengan yang baru.

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Masjid Tuanku Pamansiangan. Revisi 29975779. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29975779. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Masjid Tuanku Pamansiangan sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-25T15:53:32Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Masjid Tuanku Pamansiangan · revisi 29975779 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-25T15:53:32Z
  2. Wikidata P625 · Masjid Tuanku Pamansiangan ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-01-18T03:56:28Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi