Museum Multatuli
Museum Multatuli adalah museum umum yang menempati bekas Kawedanaan Rangkasbitung (Patih wedana'swoning te Rangkasbetoeng). Bangunan berlanggam Indies ini dirancang oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1913 dalam Verslag over de burgerlijke openbare werken in Nederlandsch-Indië over het jaar 1914 dan mulai diresmikan penggunaannya pada tahun 1923.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Kebudayaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Museum Multatuli dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Banten, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Museum Multatuli
- Lokasi
- Banten, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q97195136; ID3094585
- Klasifikasi sumber
- kebudayaan · nomor ID3094585
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: kebudayaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, susunan ruang, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Museum Multatuli adalah museum umum yang menempati bekas Kawedanaan Rangkasbitung (Patih wedana'swoning te Rangkasbetoeng). Bangunan berlanggam Indies ini dirancang oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1913 dalam Verslag over de burgerlijke openbare werken in Nederlandsch-Indië over het jaar 1914 dan mulai diresmikan penggunaannya pada tahun 1923. Kepemilikan Museum Multatuli dipegang oleh Pemerintah Kabupaten Lebak dan pengelolaannya diserahkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak. Museum Multatuli memiliki tujuh ruangan yang memamerkan koleksi sejarah yang berhubungan dengan antikolonialisme, Multatuli dan novel buatannya, sejarah Lebak, Banten, dan Rangkasbitung. Nama Multatuli berasal dari nama pena Eduard Douwes Dekker yang merupakan Asisten Residen Lebak. Peresmian Museum Multatuli diadakan pada 11 Februari 2018 oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hilmar Farid dan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya.
Penamaan
Nama Museum Multatuli diperoleh dari nama pena seorang penulis yang bernama Eduard Douwes Dekker. Ia adalah seorang asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada bulan Januari hingga Maret 1856. Pada tahun 1860, Dekker menulis sekaligus menerbitkan sebuah novel yang diberinya judul Max Havelaar. Novel ini menjadi salah satu karya penting yang membahas sejarah Banten dan Lebak, sehingga pemerintah Kabupaten Lebak memutuskan untuk mendirikan sebuah museum yang diberi nama Museum Multatuli.
Lokasi
Museum Multatuli berada di Jalan Alun-alun Timur No. 8, Rangkasbitung, Lebak, Banten. Terletak di bagian timur alun-alun Rangkasbitung dan berdampingan dengan Perpustakaan Saidjah Adinda.
Secara keseluruhan, Museum Multatuli memiliki luas tanah 1.934 m². Menempati sebuah bangunan peninggalan Hindia Belanda yang saat ini berstatus sebagai cagar budaya dan sempat beberapa kali beralih fungsi. Bangunan cagar budaya ini semula dirancang pada tahun 1913 dan selesai dikerjakan pada 1923, yang kemudian digunakan sebagai kantor kawedanan. Pada tahun 1950 menjadi kantor Markas Wilayah (Mawil) Hansip. Terakhir berfungsi sebagai kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Lebak. Baru pada tahun 2016, berlangsung pemugaran bangunan ini untuk menjadi Museum Multatuli.
Desain
Gedung Museum Multatuli dibuat dalam bentuk huruf “T” dan memiliki pendopo yang dipakai sebagai tempat perkumpulan. Desain dalam ruangan gedung bergaya modern fraktal yang tidak simetris dengan bantuan pencahayaan ruangan. Museum Multatuli terbagi menjadi tujuh ruangan dan empat tema. Tema pertama khusus mengisahkan sejarah awal penjajahan di Indonesia, sedangkan tema kedua membahas tentang pribadi tokoh Multatuli dan novelnya yang berjudul Max Havelaar. Adapun tema ketiga mengisahkan tentang sejarah Banten dan Lebak. Sedangkan tema keempat mengisahkan sejarah Rangkasbitung.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Riwayat dalam arsip sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Sejarah
Diskusi mengenai pendirian Museum Multatuli di Rangkasbitung dimulai pada awal 2010-an, dengan dukungan sejumlah tokoh, termasuk sejarawan Bonnie Triyana yang memiliki akar kultural di wilayah tersebut, Ubaidilah Muchtar, arsitek Bambang Eryudhawan, dan jurnalis Tempo Kurie Suditomo. Museum ini didedikasikan untuk Edward Douwes Dekker, yang lebih dikenal dengan nama pena "Multatuli". Dekker adalah seorang pejabat kolonial Belanda yang menjabat sebagai Asisten Residen di Lebak pada tahun 1856. Pengalamannya menyaksikan berbagai ketidakadilan dalam masyarakat kolonial menjadi inspirasi novel terkenalnya, Max Havelaar.
Rencana awalnya rumah kediaman Multatuli yang akan dijadikan museum. Namun kondisinya tidak memungkinkan karena rumah kediaman Multatuli sudah dikeliling Rumah Sakit Dokter Ajidarmo. Kondisi rumah aslinya pun sudah tinggal bersisa sebidang tembok.
Museum ini resmi dibuka pada 11 Februari 2018 dan dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Lebak. Lokasinya berada di eks kantor Kewedanaan Rangkasbitung, bangunan bersejarah yang didirikan pada tahun 1923 di dekat Alun-Alun Rangkasbitung. Dulunya, bangunan ini merupakan kantor pejabat administratif pada era kolonial. Meskipun Museum Multatuli di Rangkasbitung tidak memiliki afiliasi resmi dengan Museum Multatuli di Amsterdam, sejumlah koleksi dari museum di Belanda tersebut turut disumbangkan untuk persiapan pembukaan.
Setelah setahun riset, diputuskan museum akan menempati eks kantor sekaligus kediaman Wedana Rangkasbitung. Gedung itu kemudian dipugar dan menjadi satu kompleks dengan Museum Multatuli.
Museum ini dirancang untuk memberikan pengalaman multisensorial yang membawa pengunjung pada konteks ekonomi perkebunan abad ke-19, seperti kopi sebagai salah satu komoditas ekspor utama. Selain itu, museum juga mengeksplorasi sejarah kolonial dan proses penerbitan Max Havelaar. Beberapa koleksi penting termasuk patung Multatuli serta karakter dari novelnya, yang dibuat oleh seniman Dolorosa Sinaga. Pada tahun perdananya, museum ini menjadi tuan rumah Festival Seni Multatuli, sebuah perayaan budaya yang bertujuan memperluas apresiasi terhadap karya dan tema yang diangkat Multatuli.
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Museum Multatuli. Revisi 29856861. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29856861. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Museum Multatuli sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2026-09-17T23:33:40Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Museum Multatuli · revisi 29856861 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-09-17T23:33:40Z
- Wikidata P625 · Museum Multatuli ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-10-13T17:42:45Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.