Museum Rumah Tanjung Timur
Tanjung Timur (Bahasa Belanda: Tandjong Oost) atau juga dikenal sebagai Groeneveld (Bahasa Indonesia: "lapangan hijau"), dulu adalah sebuah tanah partikelir yang terletak di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia.
- Jenis objek
- Bangunan
- Fungsi
- Kebudayaan (kategori penelusuran)
- Masa tercatat
- Belum diringkas dari riwayat sumber
- Kondisi dan status
- Kondisi mutakhir belum dinilai
Identitas dan tapak
Museum Rumah Tanjung Timur dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: DKI Jakarta, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.
- Nama utama
- Museum Rumah Tanjung Timur
- Lokasi
- DKI Jakarta, Indonesia · Bangunan di Indonesia
- Nama lain dalam sumber
- Q19646133; ID2153774
- Klasifikasi sumber
- kebudayaan · nomor ID2153774
- Dasar kondisi
- Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
Ruang dan fungsi
Profil ini membahas bangunan individual. Kategori fungsi untuk penelusuran: kebudayaan. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.
Membaca arsitektur
Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.
Deskripsi fisik dalam sumber
Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia
Pembuka
Tanjung Timur (Bahasa Belanda: Tandjong Oost) atau juga dikenal sebagai Groeneveld (Bahasa Indonesia: "lapangan hijau"), dulu adalah sebuah tanah partikelir yang terletak di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Indonesia. Tanjung Timur adalah salah satu dari dua tanah partikelir yang terletak di tepi Sungai Ciliwung. Tanjung Timur terletak di sisi timur sungai, sementara Tanjung Barat terletak di sisi barat sungai.
Tanjung Timur juga dilengkapi dengan sebuah rumah kongsi yang disebut sebagai Landhuis Tandjong Oost. Rumah tersebut terbakar pada tahun 1985, dan reruntuhannya ditelantarkan walaupun telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.
Awal mula
Pemilik pertama dari tanah partikelir ini adalah Pieter van de Velde asal Amersfoort, seorang anggota dari Raad van Indië. Pasca Geger Pacinan, van de Velde berhasil mengakuisisi tanah partikelir besar yang sebelumnya dimiliki oleh Nie Hoe Kong, 'Kapitan Cina' Batavia. Van de Velde kemudian memperluas tanah partikelir tersebut dengan mengakuisisi tanah di selatan Meester Cornelis (kini Jatinegara) di sisi timur Sungai Ciliwung, sehingga kemudian terbentuklah tanah partikelir ini dengan nama Tanjung Timur. Pada tahun 1756, ia membangun sebuah 'rumah kongsi' di tanah partikelir ini. Peter van de Velde lalu meninggal pada tahun 1759. Pada tahun 1763, Adrian Jubbels pun mengakuisisi tanah partikelir ini. Pasca Jubbels meninggal, pada tahun 1763, tanah partikelir ini diakuisisi oleh Jacobus Johannes Craan. Ia lalu mengubah nama dari tanah partikelir ini menjadi Groeneveld (Bahasa Belanda: "lapangan hijau") dan merenovasi rumah kongsi yang ada di tanah partikelir ini dengan ornamen baru bergaya Louis XV dari Prancis, serta menambahkan sejumlah ornamen khas Tionghoa di pintu dan jendela. Ornamen-ornamen tersebut pun masih bertahan hingga rumah kongsi tersebut terbakar pada tahun 1985.
Rumah kongsi
Rumah kongsi dua lantai yang ada di tanah partikelir ini dibangun dengan Gaya Hindia Lama. Gaya tersebut menunjukkan kombinasi antara arsitektur Belanda, Tionghoa, dan Hindia Belanda. Arsitektur Hindia yang digunakan pada rumah kongsi tersebut mirip seperti arsitektur dari gedung Arsip Nasional Republik Indonesia. Rumah kongsi tersebut terdiri dari tiga paviliun. Pintu dari ruangan di dalam rumah kongsi tersebut dihias dengan ukiran kayu jati dengan motif tumbuhan. Di atas pintu utama, ornamen dihias dengan sebuah derek, simbol dari keluarga Craan. Terdapat juga pemakaman keluarga di Groeneveld.
Keluarga Craan dan van Riemsdijk
Setelah Craan meninggal pada tahun 1780, Groeneveld diwariskan ke putrinya, Catharina Margaretha Craan, dan menantunya, Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk, putra kedua dari Gubernur Jenderal Jeremias van Riemsdijk. Walaupun masih muda, Willem Helvetius van Riemsdijk telah memiliki jabatan dan kekayaan tinggi. Pada usia 17 tahun, ia telah menjadi administrator dari Pulau Onrust. Ia juga memiliki sejumlah tanah partikelir dan kebun tebu, antara lain Tanah Abang, Cibinong, Cimanggis, Ciampea, Cibungbulan, Sadeng, dan kemudian bertambah Tanjung Timur. Tanah partikelir Tanjung Timur, beserta rumah kongsinya, pun tetap dimiliki oleh keluarga van Riemsdijk hingga pecahnya Perang Dunia II.
Tanah partikelir ini kemudian dikembangkan oleh Daniel Cornelius Helvetius van Riemsdijk hingga ia meninggal pada tahun 1860. Tanah partikelir ini lalu diwariskan putrinya, Dina Cornelia. Dina Cornelia menikahi Tjalling Ament dari Dokkum. Ament pun melanjutkan pertanian di Groeneveld. Pada pertengahan abad ke-19, terdapat 6.000 ekor sapi di tanah partikelir ini. Hingga tahun 1942, keluarga van Riemsdijk mengelola tanah partikelir ini, dan juga mengembangkan permukiman untuk pekerjanya di dalam tanah partikelir ini, yang dikenal sebagai Kampung Gedong, karena permukiman tersebut terletak di dekat rumah kongsi yang berukuran besar (Bahasa Betawi: gedong). Pekerja-pekerja tersebut kemudian menjadi nenek moyang dari Suku Betawi di Condet, yang mengembangkan bentuk kebudayaan Betawi yang khas.
Perang Dunia II, Revolusi, dan Kemerdekaan
Selama Perang Dunia II, rumah kongsi yang ada di dalam tanah partikelir ini digunakan oleh pasukan pendudukan Jepang sebagai gudang. Pasca Perang Dunia II, selama Revolusi Indonesia, rumah kongsi tersebut menjadi kantor pusat dari Barisan Pelopor, sebuah gerakan bawah tanah yang bertujuan untuk melawan upaya Belanda yang ingin menduduki kembali Indonesia. Pasca Agresi Militer Belanda I dan Agresi Militer Belanda II, tanah partikelir ini diambil alih oleh Netherlands Indies Civil Administration, yang kemudian mengubah tanah partikelir ini menjadi perkebunan karet.
Setelah Indonesia merdeka, rumah kongsi tersebut diakuisisi oleh Haji Sarmili, yang lalu mengubahnya menjadi sebuah hotel, dan kemudian kembali mengubahnya menjadi perkantoran. Pada tahun 1962, Haji Sarmili menjual rumah kongsi tersebut ke Polda Metro Jaya. Pada bulan Mei 1985, rumah kongsi tersebut terbakar setelah terjadi ledakan di dapur. Rumah kongsi tersebut pun hancur. Walaupun rumah kongsi tersebut telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya, struktur yang masih tersisa ditelantarkan. Rumah kongsi tersebut kini terletak di dalam kompleks Asrama Polri Tanjung Timur.
Pada tahun 2015, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama merencanakan agar rumah kongsi tersebut dibangun kembali bersamaan dengan optimalisasi Sungai Ciliwung. Bahkan Ahok sudah bekerja sama dengan Kodam Jaya, Kopassus, dan komunitas-komunitas warga yang mendiami kawasan tersebut, antara lain Komunitas Ciliwung Condet. Nantinya, kawasan tersebut akan dijadikan kawasan tempat wisata, konservasi, dan ekosistem Sungai Ciliwung.
Pihak dan peran
Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.
Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.
Riwayat perubahan
Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber
Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.
Ukuran dan sistem
Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.
Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.
Dokumentasi dan sumber
Edisi sumber dan hak penggunaan
Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Museum Rumah Tanjung Timur. Revisi 28757007. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.
Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗
Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.
Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 28757007. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.
Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Museum Rumah Tanjung Timur sebagai bangunan individual. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.
Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.
Tanggal atau versi data sumber: 2025-12-30T05:20:27Z.
- Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
- Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.
Dasar informasi
- Wikipedia bahasa Indonesia · Museum Rumah Tanjung Timur · revisi 28757007 ↗Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2025-12-30T05:20:27Z
- Wikidata P625 · Museum Rumah Tanjung Timur ↗Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2023-04-26T14:12:40Z
Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.
Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.