Arsitektur.
bagian dari ensiklopedia.online
ARS-R600024148
Adaptasi ensiklopedia kolaboratif · ringkasan berbahasa Indonesia dan teks sumber berbahasa Indonesia. Identitas dan rujukan berasal dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia, nomor ID24148. Asal dan lisensi uraian
KompleksJawa Barat, IndonesiaARS-R600024148

Percandian Batujaya

Kompleks Percandian Batujaya adalah sebuah kompleks percandian Buddha kuno yang terletak di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Situs ini disebut percandian karena terdiri dari sekumpulan candi yang tersebar di beberapa titik.

Dasar informasi:[1]
Bandingkan
Jenis objek
Kompleks
Fungsi
Fungsi mengikuti uraian sumber
Masa tercatat
Belum diringkas dari riwayat sumber
Kondisi dan status
Kondisi mutakhir belum dinilai
01

Identitas dan tapak

Percandian Batujaya dicatat dalam lingkup Indonesia. Lokasi yang dinyatakan sumber: Jawa Barat, Indonesia. Lokasi Indonesia didukung pernyataan negara pada identitas Wikidata yang dicocokkan dengan artikel sumber.

Dasar informasi:[1]
Lingkup profil: Artikel sumber mengidentifikasi Percandian Batujaya sebagai kompleks dengan lingkup beberapa bangunan atau ruang. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan. Kompleks dihitung satu profil dan tidak ditambahkan ke hitungan bangunan individual.
Nama utama
Percandian Batujaya
Lokasi
Jawa Barat, Indonesia · Bangunan di Indonesia
Nama lain dalam sumber
Q19745571; ID24148
Klasifikasi sumber
fungsi yang dibahas sumber · nomor ID24148
Dasar kondisi
Tidak dilakukan survei fisik. Uraian dan kategori artikel tidak otomatis menjadi penetapan warisan atau bukti kondisi saat ini.
Titik lokasi: Titik rujukan Wikidata P625 untuk identitas sumber; bukan jejak bangunan. Ketelitian horizontal belum diverifikasi.
Lihat di Peta Arsitektur ↗
02

Ruang dan fungsi

Profil ini membahas kompleks arsitektur. Fungsi ruang mengikuti uraian sumber. Penggunaan ruang dan perubahannya dapat dibaca dalam teks sumber terpilih. Kategori ini tidak memastikan fungsi operasional saat ini.

Dasar informasi:[1]

Membaca arsitektur

Uraian sumber mencakup bentuk dan susunan tingkat, bahan bangunan, pintu, jendela, atau gerbang, ornamen atau relief, susunan ruang, tiang atau struktur penyangga, dinding atau fasad. Baca rincian bentuk dan ruang bersama keterangan fase dalam artikel sumber. Unsur-unsur itu dapat berasal dari masa yang berbeda. Teks terpilih tersedia di bawah untuk menelusuri dasar informasinya.

Dasar informasi:[1]

Deskripsi fisik dalam sumber

Teks dari Arsitektur Indonesia · Wikipedia · bahasa Indonesia

Pembuka

Kompleks Percandian Batujaya adalah sebuah kompleks percandian Buddha kuno yang terletak di Kecamatan Batujaya dan Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Situs ini disebut percandian karena terdiri dari sekumpulan candi yang tersebar di beberapa titik. Candi-candi tersebut merupakan candi-candi tertua di Nusantara. Kompleks percandian dibangun pada zaman Kerajaan Tarumanagara yang bercorak Hindu. Pembangunan kompleks candi Buddha yang megah di kerajaan Hindu menunjukkan tingginya toleransi antar umat beragama pada masa itu.

Dalam satuan ruang geografis Batujaya terdapat dua lapisan budaya, yaitu lapisan budaya prasejarah dan lapisan budaya Hindu-Buddha mulai dari abad permulaan era masehi sampai dengan abad ke-7. Keberadaan dua lapisan budaya tersebut menunjukkan proses transisi dari budaya masa prasejarah ke masa budaya Hindu-Buddha, meskipun secara fungsional tidak mengalami perubahan sebagai tempat suci dan tempat hunian.

Di situs ini ditemukan rangka manusia dengan bekal kubur dari masa prasejarah yang diperkirakan usianya dari abad ke-1 sampai ke-3. Dari kubur prasejarah ini ditemukan artefak berupa wadah tembikar (lokal dan India Selatan), perhiasan (manik-manik, gelang, anting, cincin, tutup mata), peralatan logam (parang, pisau, dan mata tombak), alat-alat dari tulang dan tanduk, dan kapak persegi. Ditemukan pula beberapa tinggalan megalitik berupa batu tegak (menhir), batu-batu besar yang belum diketahui fungsinya, dan batu-batu yang digunakan sebagai batu asahan.

Kompleks percandian di Batujaya adalah yang terluas di wilayah Jawa Barat dan merupakan situs percandian tertua di Indonesia. Terdapat lebih kurang 36 lokasi diantaranya 20 lokasi merupakan situs percandian. Diperkirakan masih terdapat beberapa bangunan lain yang diduga cagar budaya. Dari lingkungan candi didapati lapisan perkuatan terbuat dari beton (campuran batu kerikil, pasir, dan kapur disebut stucco concrete) yang dipergunakan untuk memperkuat struktur bangunan dan perkerasan halaman candi. Permukaan candi dilapisi lepa (stucco plaster). Lapisan beton maupun lepa dipergunakan untuk membentuk permukaan bangunan candi.

Dalam konteks kompleks percandian ditemukan sejumlah artefak antara lain inskripsi (emas, terakota, dan bata), votive tablet, arca (batu dan logam), ornamen berupa kepala manusia dan hewan yang terbuat dari stucco, wadah-wadah dan peralatan yang terbuat dari gerabah, dan keramik Cina masa Dinasti Tang berusia abad ke-9 hingga ke-10 Masehi.

Berdasarkan hasil survey tahun 1984 dan tahun-tahun berikutnya yang telah teridentifikasi sejumlah 30 situs pada areal ± 5 km2. Situs-situs tersebut terbagi atas dua kelompok sebagai berikut:

· Kelompok Situs Segaran (SEG): kelompok ini terdiri atas 14 situs.

· Kelompok Situs Telagajaya (TLJ): kelompok ini terdiri atas 18 situs.

Saat ini, situs berada dalam naungan Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Lokasi

Situs Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Luas situs Batujaya ini diperkirakan sekitar lima km2. Situs ini terletak di tengah-tengah daerah persawahan dan sebagian di dekat permukiman penduduk dan tidak berada jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (Ujung Karawang). Batujaya kurang lebih terletak enam kilometer dari pesisir utara dan sekitar 500 meter di utara Citarum. Keberadaan sungai ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keadaan situs sekarang karen tanah di daerah ini tidak pernah kering sepanjang tahun, baik pada musim kemarau ataupun pada musim hujan.

Lokasi percandian ini jika ditempuh menggunakan kendaraan sendiri dan datang dari Jakarta, dapat dicapai dengan mengambil Jalan tol Cikampek. Keluar di gerbang tol Karawang Barat dan mengambil jurusan Rengasdengklok. Selanjutnya mengambil jalan ke arah Batujaya di suatu persimpangan. Walaupun jika ditarik garis lurus hanya berjarak sekitar 50 km dari Jakarta, waktu tempuh dapat mencapai tiga jam karena kondisi jalan yang ada.

Lokasi candi ini dahulu merupakan danau atau rawa dan candi dibangun di tepian. Danau ini terbentuk akibat beralihnya Ci Tarum dari arah utara ke barat laut. Hal ini juga ditandakan dengan nama desa yang ada yaitu Segaran dan Telaga Jaya yang berarti laut atau badan air seperti danau dalam bahasa Sanskerta.

Penelitian

Situs Batujaya pertama kali diteliti oleh tim arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang disebut Fakultas Ilmu Budaya UI) pada tahun 1984 berdasarkan laporan adanya penemuan benda-benda purbakala di sekitar gundukan-gundukan tanah di tengah-tengah sawah. Gundukan-gundukan ini oleh penduduk setempat disebut sebagai onur atau unur dan dikeramatkan oleh warga sekitar. Ekskavasi dan penelitian dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) dan dibantu oleh EFEO (École Français d’Extrême-Orient) dan dukungan dana dari Ford Motor Company digunakan untuk kegiatan kajian situs ini.

Semenjak awal penelitian dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2006 telah ditemukan 31 tapak situs sisa-sisa bangunan. Penamaan tapak-tapak itu mengikuti nama desa tempat suatu tapak berlokasi, seperti Segaran 1, Segaran 2, Telagajaya 1, dan seterusnya. Sampai pada penelitian tahun 2000 baru 11 buah candi yang diteliti (ekskavasi). Laporan Balai Penelitian Cagar Budaya (BPCB) Serang pada tahun 2014 menyebutkan ada 40 situs sisa bangunan (candi) yang ada di kawasan Batujaya. Sampai tahun 2016 diketahui terdapat 62 unur dan 51 di antaranya terkonfirmasi memiliki sisa-sisa bangunan. Banyaknya temuan ini menyisakan banyak pertanyaan yang belum terungkap secara pasti mengenai kronologi, sifat keagamaan, bentuk, dan pola percandian.

Sampai 2014, empat candi di Situs Batujaya (Batujaya I atau Candi Jiwa, Batujaya V atau Candi Blandongan, Talagajaya I atau atau Batujaya VII atau Candi Serut, dan Talagajaya IV atau Batujaya VIII atau Segaran IX atau Candi Sumur) telah atau sedang dipugar.

Bangunan dan temuan-temuan lainnya

Dari segi kualitas, candi di situs Batujaya tidaklah utuh sebagaimana layaknya sebagian besar bangunan candi. Bangunan-bangunan candi tersebut ditemukan hanya di bagian kaki atau dasar bangunan, kecuali sisa bangunan di situs Candi Blandongan.

Candi-candi yang sebagian besar masih berada di dalam tanah berbentuk gundukan bukit (juga disebut sebagai unur dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa). Ternyata candi-candi ini tidak memperlihatkan ukuran atau ketinggian bangunan yang sama.

Bahan bangunan candi tidak terbuat dari batu andesit seperti candi-candi di Jawa Tengah, melainkan terbuat dari batu bata.

Candi Jiwa

Struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Pada bagian tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Bentuk seperti ini adalah unik dan belum pernah ditemukan di Indonesia.

Seperti candi-candi Buddha pada umumnya, ritual persembahyangan di Candi Jiwa dilakukan dengan pradaksina, yaitu dengan posisi tangan anjali dan langkah penuh perhatian mengelilingi candi sebanyak 3 kali searah jarum jam. Dan candi jiwa saat ini sudah di pugar dan di perbaiki jadi terlihat lebih bagus dalam beberapa artikel dan media informasi diantaranya Karawangportal

Banyak photo-photo dan artikel yang menjelaskan candi jiwa.

Candi Blandongan

Terletak sekitar 100 meter dari Candi Jiwa dan memiliki ukuran lebih luas. Candi Blandongan memiliki 4 buah tangga pada setiap sisinya. Bagian bawah bangunan terdapat selasar yang memisahkan dinding selasar dengan badan bangunan yang berlapik. Dilihat dari perbedaan struktur bangunan, fungsi Candi Blandongan berbeda dengan Candi Jiwa yang merupakan candi untuk ritual pemujaan kepada Buddha Shakyamuni (Siddhartha Gautama). Candi Blandongan kemungkinan berfungsi sebagai candi pendharmaan raja, yakni Raja Purnawarman.

Walaupun Purnawarman beragama Hindu Waisnawa (aliran Agama Hindu yang menitikberatkan pada pemujaan terhadap Dewa Wisnu), sebagai seorang raja yang membawa kemakmuran bagi rakyatnya, bukan hal yang aneh jika beliau juga dihormati oleh penganut Agama Buddha dan dibuatkan candi pendharmaan (semisal Sri Jaya Wisnuwardhana, Raja Singasari, didharmakan di Candi Jago yang bercorak Buddha dan di Candi Mleri yang bercorak Hindu Saiwa).

Amulet Candi Blandongan

Pada saat dilakukan ekskavasi, ditemukan amulet-amulet di Candi Blandongan. Amulet-amulet tersebut memiliki bentuk, ukuran, dan hiasan yang sama, yang membedakan hanyalah ada atau tidaknya tulisan di bagian bawah amulet. Temuan lain yaitu lempengan emas 16 karat dengan tulisan Pallawa dan bahasa Sanskerta.

Amulet biasanya digunakan sebagai penolak bala atau pembawa keberuntungan. Amulet-amulet yang ditemukan di Candi Blandongan berupa ukiran 6 sosok: di sisi atas terdiri dari 3 sosok Buddha dalam postur bersila dengan gestur meditasi (dhyana mudra); di sisi bawah tengah terdapat sosok Buddha dalam postur duduk dengan gestur menolak bala (abhaya mudra), di sebelah kanannya sosok Brahma Sahampati dan di sebelah kirinya sosok Dewa Sakra (Sakka) dalam posisi berdiri.

Amulet-amulet tersebut menceritakan peristiwa Mukjizat Ganda yang dilakukan oleh Buddha Shakyamuni di kota Shrawasti (Savatthi). Berdasarkan cerita tersebut, Buddha Shakyamuni melakukan mukjizat air dan api di hadapan raja pada saat kontes dengan 6 guru agama lain, yaitu memancarkan api dari bagian atas tubuhnya dan aliran air dari bawah, dan kemudian memancar secara bergantian. Lidah api dan aliran air juga muncul bergantian dari sisi kanan dan dari kiri tubuhnya. Setelah menyaksikan kesaktian Sang Buddha, timbul keyakinan (shraddha/saddha) kepada Buddha dalam hati raja dan semua yang menyaksikan. Setelah itu Raja Naga Nanda dan Upananda menciptakan singgasana teratai untuk Sang Buddha. Sang Buddha pun duduk di atas singgasana teratai, didampingi oleh Brahma Sahampati di sisi kanan dan Dewa Sakra di sebelah kiri Buddha. Kemudian Sang Buddha menciptakan duplikasi teratai dan dirinya hingga memenuhi langit. Duplikasi Sang Buddha tersebut saling bertanya jawab Dharma (Dhamma) satu dengan yang lainnya, sehingga membuat mereka yang menyaksikan selain timbul keyakinan, juga mengerti ajaran Sang Buddha.

Dalam penggambaran di amulet, sosok Buddha berada di bagian bawah tengah, sedangkan duplikasi Sang Buddha digambarkan dalam 3 sosok Buddha dalam postur meditasi di bagian atas.

Kisah ini terdapat dalam sastra Diwyawadana (Divyavadana) berbahasa Sanskerta, di dalam kitab Pratiharya-sutra. Sastra Diwyawadana (Divyavadana) merupakan naskah Agama Buddha Aliran Mulasarwastiwada (Mulasarvastivada), yang tergolong sebagai aliran Srawakayana (Sravakayana). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Agama Buddha yang dianut pada zaman tersebut adalah Aliran Mulasarwastiwada (Mulasarvastivada).

Penanggalan

Berdasarkan analisis radiometri karbon 14 pada artefak-artefak peninggalan di Candi Blandongan, salah satu situs percandian Batujaya, diketahui bahwa kronologi paling tua berasal dari abad ke-2 Masehi dan yang paling muda berasal dari abad ke-12 Masehi.

Di samping pertanggalan absolut di atas ini, pertanggalan relatif berdasarkan bentuk paleografi tulisan beberapa prasasti yang ditemukan di situs ini dan cara analogi dan tipologi temuan-temuan arkeologi lainnya seperti keramik Cina, gerabah, votive tablet, lepa (pleister), hiasan dan arca-arca stucco dan bangunan bata banyak membantu.

Berdasarkan catatan dari Fa Hsien, diketahui bahwa pada awal abad ke-4 masih sedikit sekali penganut Agama Buddha di Pulau Jawa, maka kecil sekali kemungkinan pembangunan kompleks candi Buddha dilakukan sebelum abad ke-4. Lokasi percandian mungkin sudah menjadi pusat pemujaan sejak abad ke-2 Masehi, tetapi pembangunan kompleks candi yang megah ini kemungkinan besar baru dimulai pada zaman keemasan Kerajaan Tarumanagara, yakni pada masa pemerintahan Raja Purnawarman (tahun 395-434 Masehi) dan dilanjutkan secara bertahap oleh penerusnya hingga akhirnya ditinggalkan karena banjir bandang pada abad ke-7.

namun pada kenyataannya komplek Candi Di batujaya tidak ada sumber prasasti peninggalannya masih diperdebatkan sumber sejarah candi tersebut.

03

Pihak dan peran

Perancang dan pelaksana belum diringkas dalam tabel ini. Nama dan perannya mungkin disebut dalam uraian sumber; baca sesuai konteksnya.

Atribusi berlaku pada fase yang disebut. Pemesan, perancang, pelaksana, dan pembangun mempunyai peran berbeda.

04

Riwayat perubahan

Tanggal observasi fisik belum dipastikan

Uraian bentuk dan riwayat dalam artikel sumber

Riwayat dan perubahan dibaca dalam bagian sumber terpilih. Tanggal revisi artikel bukan tanggal pembangunan atau survei kondisi.

Dasar informasi:[1]
05

Ukuran dan sistem

Keterangan bahan dan sistem mengikuti uraian sumber terpilih. Ukuran, nama perancang, tahun pembangunan, dan klaim kinerja yang belum diperiksa silang tidak dimasukkan sebagai data tersendiri.

Dasar informasi:[1]

Ukuran belum diringkas dalam tabel ini. Baca angka pada uraian sumber bersama definisi, fase, dan lingkupnya.

06

Dokumentasi dan sumber

Edisi sumber dan hak penggunaan

Kontributor Wikipedia bahasa Indonesia — Percandian Batujaya. Revisi 29281656. Markup, tabel, daftar, media, catatan kaki, kutipan panjang, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Templat format/bahasa dan angka-satuan sederhana dipertahankan sebagai nilai literal sumber, templat lain dihilangkan; urutan paragraf sumber dipertahankan. Seleksi dan ringkasan merupakan adaptasi independen berlisensi CC BY-SA 4.0.

Kontributor Wikidata · data terstruktur CC0 1.0

Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 ↗

Ringkasan berbahasa Indonesia disusun dari nama, lokasi, kategori, dan istilah arsitektur pada catatan sumber. Teks sumber berbahasa Indonesia mengikuti ketentuan penggunaan yang tercantum di atas. Penelaahan ahli independen belum tercatat.

Riwayat penulis dan kontributor sumber ↗ · revisi 29281656. Teks yang diadaptasi pada profil ini mengikuti CC BY-SA 4.0. Kategori sumber bukan penetapan cagar budaya.

Lingkup identitas: Artikel sumber mengidentifikasi Percandian Batujaya sebagai kompleks dengan lingkup beberapa bangunan atau ruang. Profil mengikuti lingkup objek fisik yang dibahas sumber; lembaga pengelola dan objek di sekitarnya tidak menjadi identitas tambahan.

Status sumber: Artikel ensiklopedia kolaboratif; bukan rekaman penetapan pemerintah · Klasifikasi sumber: Kategori artikel; bukan rating bangunan. Tanggal penetapan bukan tanggal konstruksi.

Tanggal atau versi data sumber: 2026-05-28T03:54:51Z.

Catatan pembacaan sumber
  • Adaptasi ensiklopedia kolaboratif; penelaahan ahli independen belum tercatat. Rujukan eksternal dalam artikel bukan sumber yang dinyatakan telah dibaca oleh Arsitektur.
  • Pemilihan paragraf dan pengelompokan bagian mempertahankan teks sumber; markup, templat, tabel, media, dan bagian nonnaratif dihilangkan. Teks serta adaptasinya mengikuti CC BY-SA 4.0.

Dasar informasi

  1. Wikipedia bahasa Indonesia · Percandian Batujaya · revisi 29281656 ↗
    Kontributor Wikipedia · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2026-05-28T03:54:51Z
  2. Wikidata P625 · Percandian Batujaya ↗
    Kontributor Wikidata · diakses pada 2026-10-15 · dokumen 2025-09-03T07:12:59Z

Disusun oleh Arsitektur. Penelaahan ahli independen tidak diklaim.

Perubahan isi: 2026-10-17. Tanggal ini tidak menyatakan survei fisik, tanggal dokumen, atau penelaahan independen.

Baca dokumentasi